Jumat, 19 April 2013

Akhlak Menurut Bahasa dan Istilah

Pengetian Akhlak Menurut Bahasa dan Istilah


a.   Pengertian Akhlaq secara Bahasa (Etimologi)

Di lihat dari sudut etimologi perkataan Akhlaq berasal dari bahasa Arab yaitu jamak dari khuluqun, yang menurut lughat diartikan adat kebiasaan, perangai, watak, tabiat, atau pembawaan, adab atau sopan santun, dan agama. Kata tersebut mengandung segi-segi persesuaian dengan perkataan khalaqa yang berarti menciptakan[1] dan khalqun yang berarti juga kejadian.

Kata khalqun, erat hubungannya dengan Khaliq yang berarti pencipta dan makhluq  yang berarti yang di ciptakan dan dari sinilah asal mula perumusan ilmu akhlak yang merupakan koleksi urgensi yang memungkinkan timbulnya hubungan yang baik antara Makhluk dengan Khaliq dan antara Makhluk dengan makhluk. Menurut Ali Abdul Halim Mahmud (2004:28) dengan merujuk pada pendapat al-Ghozali, mengatakan menurut bahasa kata al-khalaq (fisik)  dan al-khuluq (akhlak) adalah dua kata yang sering dipakai secara bersamaan. Seperti redaksi bahasa arab ini, “Fulan Husnu al-khalaq wa al-khuluq”  yang artinya “seseorang baik lahirnya dan batinnya”, sehingga yang dimaksud al-khalaq adalah bentuk lahirnya. Sedangkan al-khuluq adalah bentuk batinnya.[2] Dalam kitab “al-Mursyid al-Amin Ila Mau’idhah al-Mu’min” telah dijelaskan bahwa kata al-Khalqu mengandung arti kejadian yang bersifat lahiriah seperti wajah seseorang yang bagus atau yang jelek. Sedangkan kata al-Khuluqu atau jamak dari Akhlak itu mengandung arti budi pekerti atau pribadi yang bersifat rohaniah seperi sifat-sifat terpuji atau sifat-sifat tercela.

Kata akhlak atau khuluqun disebut juga dengan istilah adab. Adab sering sekali kita dengar sebagai pengganti dari istilah Akhlaq. Adab dan Akhlaq keduanya bersumber dari Rasulullah SAW, sehingga dalam pembicaraan sehari-hari istilah Adab dan Akhlaq sering sekali disamaartikan. Akan tetapi kalau perlu dibedakan maka pengertian Adab lebih menunjuk pada sikap-sikap perilaku lahiriyah, seperti adab makan, dan minum, adab tidur, adab mendatangi kamar kecil dan sebagainya. Sedang pengertian Akhlaq lebih menunjuk pada sikap batin.[3]

Dalam bahasa Yunani pengertian khuluqun ini dikenal dengan istilah ethicos atau ethos atau juga ethic, artinya adat kebiasaan, perasaan batin, kecenderungan hati untuk melakukan perbuatan. Kata ethic di sebut juga sebagai arti yang sebenarnya, maksudnya apa yang dikatakan baik itu adalah yang sesuai dengan kebiasaan masyarakat. Adapun yang dimaksud kebiasaan adalah kegiatan yang selalu dilakukan berulang-ulang sehingga mudah untuk dilakukan seperti merokok yang menjadi kebiasaan bagi pecandu rokok. Kemudian kata ethicos ini berubah menjadi etika  dalam istilah Indonesia. Etika yaitu suatu ilmu yang membicarakan masalah perbuatan dan tingkah laku manusia, mana yang dinilai baik dan mana yang buruk[4] dengan memperhatikan amal perbuatan manusia sejauh yang dapat diketahui oleh akal pikiran. Etika disebut juga sebagai sebuah cabang filsafat ysng membicarakan nilai dan norma yang menentukan perilaku manusia dalam hidupnya.[5]

Menurut Bertens (1999:6) etika mempunyai tiga arti, pertama, etika dalam arti nilai-nilai atau norma-norma yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok orang dalam mengatur tingkah lakunya. Pengertian ini bisa dirumuskan juga suatu system nilai yang dapat berfungsi dalam hidup manusia perorangan maupun pada tataran social. Kedua, etika dalam arti kumpulan asas atau nilai moral. Dalam artian ini etika dimaksudkan sebagai kode etik. Ketiga, etika dalam arti ilmu tentang baik dan buruk. Etika baru menjadi ilmu apabila kemungkinan-kemungkinan etis (asas dan nilai yang dianggap baik dan buruk) yang begitu saja diterima oleh masyarakat seringkali tanpa disadari menjadi bahan refleksi bagi suatu penelitian sistematis dan metodis. Menurut Black (1990 :11) etika adalah ilmu yang mempelajari cara manusia memperlakukan sesamanya dan apa arti hidup yang baik. Etika mempertanyakan pandangan orang dan mencari kebenarannya.[6]

Ada persamaan dan perbedaan antara istilah Akhlak atau khuluqun dan etika. Persamaan diantara keduanya adalah terletak pada objek yang akan dikaji, dimana kedua-duanya sama-sama membahas tentang baik buruknya tingkah laku dan perbuatan manusia. Sedangkan perbedaannya sumber norma, dimana akhlak mempunyai basis atau landasan kepada norma agama yang bersumber dari al Quran dan hadist.

Para ahli dapat segera mengetahui bahwa etika berhubungan dengan empat hal sebagai berikut. Pertama, dilihat dari segi objek pembahasannya, etika berupaya membahas perbutaan yang dilakukan oleh manusia. Kedua, dilihat dari segi sumbernya, etika bersumber pada akal pikiran dan filsafat. Sebagai hasil pemikiran maka etika tidak bersifat mutlak, absolut dan tidak pula universal. Ketiga, dilihat dari segi fungsinya, etika berfungsi sebagai penilai, penentu dan penetap terhadap suatu perbuatan tersebut akan dinilai baik, buruk, mulia, terhormat, terhina dsb. Keempat, dilihat dari segi sifatnya, etika bersifat relatif yakni dapat berubah-rubah sesuai tuntutan zaman. [7]

Kata khuluqun di kenal juga dengan istilah moral asal kata dari ‘mores’ dalam bahasa Inggris, dan  jamak dari kata ‘mos’ dalam bahasa latin, yang berarti adat kebiasaan, cara, tingkah laku, kelakuan, tabiat, watak, cara hidup (Lorens Bagus, 1996 ; 672).[8] Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia dari W.J.S. Poerwadarminto terdapat keterangan bahwa moral adalah ajaran tentang baik buruk  perbuatan dan kelakuan.[9]. Sedangkan moral adalah sesuai dengan ide-ide yang umum diterima tentang tindakan manusia, mana yang baik dan mana yang wajar.

Adapun moralitas merupakan kemauan untuk menerima dan melakukan peraturan, nilai-nilai atau prinsip-prisnip moral. Nilai-nilai moral iru seperti ; (a) seruan untuk berbuat baik kepada orang lain, memelihara ketertiban dan keamanan, memelihara kebersihan dan memelihara hak orang lain dan (b) larangan mencuri, berzina, membunuh, meminum minuman keras dan berjudi. Seseorang dapat dikatakan bermoral, apabila tingkah laku orang tersebut sesuai dengan  nilai-nilai moral yang dijunjung tinggi oleh kelompok sosialnya.[10]

Antara etika dan moral memang memiliki kesamaan. Namun, ada pula berbedaannya, yakni etika lebih banyak bersifat teori, sedangkan moral lebih banyak bersifat praktis. Menurut pandangan ahli filsafat, etika memandang tingkah laku perbuatan manusia secara universal (umum), sedangkan moral secara lokal. Moral menyatakan ukuran, etika menjelaskan ukuran itu.

Namun demikian, dalam beberapa hal antara etika dan moral memiliki perbedaan. Misalnya dalam pembicaraan etika, untuk menentukan nilai perbutan manusia baik atau buruk menggunakan tolak ukur akal pikiran atau rasio, sedangkan dalam pembicaran moral tolak ukur yang digunakan adalah norma-norma yang tumbuh dan berkembang dan berlangsung di masyarakat.

Dalam pengertian sehari-hari kata khuluqun umumnya disamakan artinya dengan arti kata budi pekerti  atau  kesusilaan atau  sopan santun. Kata budi pekerti, dalam bahasa Indonesia, merupakan kata majemuk dari kata  budi dan pekerti. Perkataan budi  berasal dari bahasa Sansekerta, [11] bentuk isim fa’il atau alat, yang berarti yang sadar  atau  yang menyadarkan atau alat kesadaran. Bentuk mashdarnya (momenverbal) budh yang berarti kesadaran.  Sedang bentuk maf’ulnya (obyek) adalah budha, artinya yang disadarkan.[12] Pekerti,[13] berasal dari bahasa Indonesia sendiri, yang berarti  kelakuan.

Kata budi [14] juga dapat diartikan sebagai akal yaitu alat batin untuk menimbang dan menentukan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang benar dan mana yang salah. Budi dapat diartikan pula sebagai tabi’at, watak, perangai dan sebagainya. Budi  adalah hal yang berhubungan dengan kesadaran yang didorong oleh pemikiran, yang juga disebut karakter. Pekerti[15] dapat diartikan sebagai perbuatan. Pekerti adalah apa yang terlihat pada manusia karena didorong oleh perasaan hati yang disebut juga behaviour.
Dalam bahasa Jawa dan bahasa Sunda, kata khuluqun dikenal juga dengan istilah tata krama yang juga dimaksudkan sebagai sopan santun.

Jadi berdasarkan sudut pandang etimologi definisi Akhlak dalam pengertian sehari-hari disamakan dengan budi pekerti, kesusilaan, sopan santun, tata karma (versi bahasa Indonesia) sedang bahasa Inggrisnya disamakan dengan istilah moral atau ethic.

b.    Pengertian Akhlaq secara Istilah (Terminologi )

Adapun secara terminologi, para ulama membatasi ilmu akhlak tentang pengertiannya. Menurut Al Ghazali, akhlak adalah sifat yang melekat dalam jiwa seseorang yang menjadikan ia dengan mudah tanpa banyak pertimbangan lagi. Menurut Ibrahim Anis, akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa, yang dengannya lahirlah macam-macam perbuatan, baik atau buruk, tanpa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan. [16]

Abdul Karim Zaidan membatasinya sebagai “nilai dan sifat-sifat yang tertanam dalam jiwa, yang dengan pertimbangannya seseorang dapat menilai perbuatannya baik atau buruk, untuk kemudian memilih untuk melakukan atau meninggalkannya. [17]

M. Abdullah Diroz, mendefinisikan akhlak sebagai suatu kekuatan dalam kehendak yang mantap, kekuatan berkombinasi membawa kecenderungan pada pemilihan pihak yang benar atau pihak yang jahat (Fadlil  Yani Ainusysyam, 2007).[18]

Menurut Abu Bakr Jabir Al-Jazairi dalam kitabnya Ensiklopedi Muslim, Akhlaq diartikan sebagai institusi yang bersemayam di hati tempat munculnya tindakan-tindakan sukarela, tindakan yang benar atau salah. Menurut tabiatnya, institusi tersebut siap menerima pengaruh pembinaan yang baik, atau pembinaan yang salah kepadanya.[19]

Menurut Muhammad bin Ali Asy Syarif al-Jurjani dalam bukunya al-Ta’rifat, sebagaimana dikutip oleh Ali Abdul Halim Mahmud (2004:32) “Akhlak adalah istilah bagi sesuatu sifat yang tertanam kuat dalam diri, yang darinya terlahir perbuatan-perbuatan dengan mudah dan ringan, tanpa perlu berpikir dan merenung”. Adapun menurut Muhammad bin Ali al-Faruqi at-Tahanawi sebagaimana dikutip oleh Ali Abdul Halim Mahmud (2004:34) “Akhlak adalah keseluruhannya kebiasaan, sifat alami, agama dan harga diri”.[20]

Dari definisi-definis yang dikutip diatas sepakat menyatakan bahwa akhlak atau khuluq itu adalah sifat yang tertanam dalam jiwa manusia, sehingga dia akan muncul bilamana diperlukan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan. Dalam Mu’jam al-wasith di sebutkan bahwa khuluqun itu adalah sifat yang tertanam dalam jiwa manusia, sehingga dia akan muncul secara sepontan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan terlebih dahulu. Begitu pun dalam Ihya’ ‘Ulum ad-Din di nyatakan pula bahwa khuluqun adalah sifat yang tertanam dalam jiwa, yang karenanya menimbulkan perbuatan-perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan,[21] sebab sudah menjadi kebiasaan, dengan kata lain spontanitas.

Dengan perumusan pengertian Akhlak di atas muncul sebagai mediator yang menjembatani komunikasi adanya hubungan baik antara Khaliq dengan makhluq secara timbal balik, kemudian disebut sebagai hablum minallah. Dari produk hablum minallah yang verbal ini, maka lahirlah pola hubungan antar sesama manusia, disebut dengan hablum minannas.

Memahami ungkapan tersebut diatas dapat dimengerti bahwa Akhlak adalah sifat (potensi) yang dibawa setiap manusia sejak lahir : artinya, sifat (potensi) tersebut sangat tergantung dari cara pembinaan dan pembentukannya. Apabila pengaruhnya itu positif maka outputnya adalah akhlak mulia atau Akhlaqul Karimah dan sebaliknya apabila pembinaannya itu negatif, yang terbentuk adalah akhlak maz mumah (tercela).[22]


_________________________
[1] Prof.Dr.H.Yunahar Ilyas, Kuliah Akhlaq, Yogyakarta : Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Islam (LPPI), 2011 h. 1
[2] Heri Gunawan, S.Pd.I.,M.Ag.Pendidikan Karakter ‘Konsep dan Implementasi’,Bandung : Alfabeta,cv,2012, h.4-5
[3]  Drs.Musthafa Kamal Pasha, B.Ed. Drs. H.Chusnan Yusuf, Akhlak sunnah, Yogyakarta: Citra Karsa Mandiri, 2003,h. 11 
[4]  Drs. H. Burhanudin salam,M.M, Etika Individual Pola Dasar Filsafat Moral, Jakarta : PT Rineka Cipta, (cet.ke-1 Maret 2000) h.3
[5]  Dr. Sjarkawi, M.Pd.Pembentukan Kepribadian Anak: Peran Moral, Intelektual,Emosional, dan Sosial sebagai Wujud Integritas Membangun Jati Diri, Jakarta : Bumi Aksara, 2006 h.27

[6] Dr. Sjarkawi, M.Pd, Ibid.,h. 27

[7]  Grm, Akhlak, Etika, Moral, Norma dan Nilai dalam :  http://Grms.Multiply.Com/Journal/Item/26, (download : 17.42 WIB, 26 Juni 2011)

[8] Dr. Sjarkawi, M.Pd, Ibid., h.27.

[9] Drs. H. Burhanudin salam,M.M, Etika Individual Pola Dasar Filsafat Moral, Jakarta : PT Rineka Cipta, (cet.ke-1 Maret 2000) h.2
[10]  Dr.H. Syamsu Yusuf LN., M.Pd.Psikologi Perkembangan Anak & Remaja, Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2006, h.132
[11] Dr. Sjarkawi, M.Pd, Ibid.,h.32

[12] Alfutuchat, Pengertian Akhlaq Menurut Bahasa, dalam http://alfutuchat.wordpress.com/2010/06/24/1-pengertian-akhlak-menurut-bahasa.html (download : 17.38 WIB, 26 Juni 2011) Ibid.

[13] Farida Hamid, S.Pd, Kamus Ilmiah Populer Lengkap, Surabaya : Penerbit “APOLlO”,tanpa tahun, h.475

[14] Hamzah Ahmad dan Ananda Santoso,  Ibid. h. 67

[15] Farida Hamid, S.Pd, Ibid., h.475

[16]  Prof.Dr.H.Yunahar Ilyas, Ibid.,h.2

[17]  Drs.Musthafa Kamal Pasha, B.Ed. Drs. H.Chusnan Yusuf, Akhlak Sunnah, Yogyakarta: Citra Karsa Mandiri, 2003, h. 5

[18]  Tim Pengembang Ilmu Pendidikan FIP-UPI, Ilmu dan Aplikasi Pendidikan Bagian III: Pendidikan Disiplin Ilmu, Bandung : PT Imperial Bhakti Utama, 2007 h.21

[19]  Abu Bakr Jabir Al-Jazairi, Ensiklopedi Muslim, Jakarta: Darul Falah, 2008, h. 217
[20]  Heri Gunawan, S.Pd.I,.M.Ag. Ibid., h.5

[21]  Prof.Dr.H.Yunhar Ilyas, Ibid.,h.2

[22]  Alfutuchat, Pengertian Akhlaq Menurut Bahasa, dalam http://alfutuchat.wordpress.com/2010/06/24/1-pengertian-akhlak-menurut-bahasa.html (download : 17.38 WIB, 26 Juni 2011)

0 komentar:

Poskan Komentar

Tolong berikan komentar ya?, Berkomentarlah yang baik dan sopan.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More